Minggu, 03 April 2016

MACAM-MACAM MAJAS DALAM PUISI

Contoh Majas yang terkandung dalam penggalan Puisi


1. Majas Metafora
   a. Aku ini binatang jalang (Chairil Anwar)
   b. Kaulah kandil kemerlap, pelita jendela di malam gelap (Amir Hamzah)
   c. Engkaulah putri duyung tawananku (Rendra)

2. Majas Simile
   a. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam manyirak kelopak (Amir Hamzah)
   b. Putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut (Rendra)
   c. Malam tambah merasuk, rimba jadi semati ungu (Chairil Anwar)
   d. Engkau pelik menarik ingin serupa dara di balik tirai (Amir Hamzah)
   e. Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya (Amir Hamzah)

3. Majas Personifikasi
   a. Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para (Rendra)
   b. Ajal bertahta sambil berkata, "Tujukan perahu ke pangkuanku saja.." (Chairil A.)
   c. Mereka: Cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa (Hartoyo A.)
   d. Ombak di lautan menambah rindu dan gelisah
Adakah angin gunung adakah angin padang mendengar keluhanku mendengar jeritanku dan membebaskan nasibku dari belenggu sepi (Ebit)
   e. Sepi menyanyi malam dalam mendoa tiba (Cahiril Anwar)
   f. Buat penghabisan kali kugenggam jarimu
Lewat celah kaca jandela
Lalu jarak antara kita mengembang jua
Dan tinggallah rel-rel, peron, dan lampu
Yang menggigil di angin senja (Elha)
   g. Bersandar pada tari warna pelangi / Kau depanku berudung surya senja... ( Chairil A.)
   h. Kami belum sempat menikmati / selengkap tari-tari ujung penamu...

4. Majas Hiperbola
   a. Aku mau hidup seribu tahun lagi (Chairil Anwar)
   b. Rintihnya tersebar selebar tujuh desa (Rendra)
   c. Berjuta-juta harapan ibu dan bapak / menjadi gebalau suara yang kacau (Rendra)
   d. Di depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali (Chairil Anwar)
   e. Kita tak punya kepentingan dengan seribu slogan (T. Ismail)
   f. Jalan sudah bertahun kutempuh / Perahu yang bersama kan merapun (Chairil A.)
   g. Dari pantai keempat sedu penghabisan bisa terdekap (Chairil Anwar)
   h. Mereka akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota (Toto Sudarto B)

5. Majas Sinekdok Pars Prototo
   a. Jangan lagi kau bercerita, sudah tercacar semua di muka (Chairil Anwar)
   b. Daging kita satu, arwah kita satu / walau saling jauh / yang tertusuk padamu berdarah padaku (Sutardji C.B.)
   c. Hari ini kita tangkap tangan-tangan kebatilan yang selama ini mengenakan seragam kebesaran (T. Ismail)
   d. Penderitaan mengalir dari parit-parit wajah rakyat (Rendra)

6. Majas Sinekdok Totem Pro Parte
   a. Para petani bekerja, berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela (Rendra)
   b. Kau massa pekerja Indonesia / kau mati di laut menangkap ikan (Hr. Bandaharo)

7. Majas Ironi
   a. Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja / Tidak tugu atau tempat main bola / Air mancur warna-warni (T. Ismail)
   b. Seorang ketika digiring, tersedu / membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya (T. Ismail)

8. Majas Tautologi
   a. Bisa dan luka kubawa berlari / Hingga hilang perih pedih (Chairil Anwar)
   b. Dalam kebun di tanah airku / Tumbuh sekuntum bunga teratai / Tersembunyi kembang indah permai (S. Pane)
   c. Mereka : Cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa (Hartoyo A.)
   d. Kau diam, diam kekasihku... / Kasihku, anakku, mengapa kian? (J.E. Tatengkeng)
   e. Pergi ke laut lepas, anakku sayang / pergi ke alam bebas (Asrul Sani)

9. Majas Simbolik
   a. Dalam kebun di tanah airku / Tumbuh sekuntum bunga teratai / Tersembunyi kembang indah permai (S. Pane)
   b. Kapal perahu tiada bertaut / menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut (Chairil)
   c. Jalan sudah kutempuh / Perahu yang bersama kan merapuh (Chairil A.)
   d. Ah, rumput, akarmu jangan turut mengering / jangan mati kaku di tanah berbaring / ... nantikanlah dengan sabar sampai hujan turun membasahi bumi (Waluyati)
   e. Burung dara jantan / yang dulu kau pelihara / kini telah terbang menemui jodohnya (Rendra)

10. Majas Repetisi
   a. Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati (Sutardji)
   b. Kau diam, diam kekasihku.../ Kasihku, anakku, mengapa kian? (J.E. Tatengkeng)
   c. Rakyat negeriku bergerak lunglai.../ menoleh ke kiri, menoleh ke kanan dalam usaha tak menentu (Rendra)

11. Majas Paralelisme
   a. Angin bahorok bertiup di lereng bukit
Membawa kekeringan
Membawa kematangan (Sitor Situmorang)
   b. Rakyat ialah kita...
Suara kecapi dipegunungan jelita
Suara bonang mengambang di pandapa
Suara kecak di muka pura... (Hartoyo Andangjaya)
   c. Bikin sendiri saja udara mana kau suka
Bikin sendiri saja bumi mana kau suka
Bikin sendiri saja rasa mana kau suka
Bikin sendiri saja logika mana kau suka (Yudhistira)
   d. Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang (Chairil A.)
   e. Ia sisihan kita kalau kita pergi kondangan
Ia titimbangan kita kalau kita jual palawija
Ia teman belakang kita kalau kita lapar dan mau makan (Darmanto Jatman)
   f. Mimpi bakal kehabisan warna
Nasib bakal kehabisan garis
Tenaga bakal kehabisan makna
Palawija bakal kehabisan akar (Yudhistira)
   g. Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa (Amir Hamzah)
   h. Seperti lidah ia, di mulut kita, tak terasa
Seperti jantung ia, di dada kita, tak terasa (Darmanto Jatman)
   i. Anak kami Tuhan berikan
Anak kami Tuhan panggilkan (J.E. Tatengkeng)
   j. Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih
Aku bawakan resahku padamu
Tapi kau bilang hanya
Aku bawakan darahku padamu
Tapi kau bilang cuma
Aku bawakan mimpiku padamu
Tapi kau bilang tapi
Aku bawakan mayatku padamu
Tapi kau bilang hampir ... (Sutardji C.B.)

12. Majas Paradoks
   a. Senyummu terlalu kekal untuk mengenal duka (Toto S.B.)
   b. Istri menjadi sangan penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya (Darmanto Jatman)
   c. Di pukul banjir, gunung api, kutu dan hama / Dan bertanya-tanya diam inikah merdeka (T.Ismail)
   d. Dunia tambah beku di tengah derap suara menderu (Toto S.B.)

13. Majas Klimaks
   a. Lima puluh sembilan tangga kemiskinan.
Hari sengangar
Enam puluh sembilan tangga kemiskinan.
Hari terbakar ( T.Ismail)

14. Majas Antiklimaks
   a. Pada langkah pertama keduanya sama baja
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo (Rendra)



Dan yaa like that lah postan kali ini, semoga bermanfaat yak 😊

1 komentar: